Tidak dapat dipungkiri bahwa kemajuan dan teknologi canggih yang melahirkan berbagai produk elektronik (media massa) telah memberikan pengaruh besar pada kehidupan manusia (sosial, politik, ekonomi, budaya, dan pendidikan), baik yang bersifat positif maupun negatif itu semua bergantung pada manusia selaku pelaksana konsumen.
Al-Qur'an telah memotivasi dan menjelaskan tentang IPTEK, secara nyata memberikan dorongan kepada manusia agar menganalisis dan mengembangkan ilmu dan teknologi. Dengan tujuan untuk mengatur ekosistem yang serba nyaman dan teratur, terdapat dalam surat Saba' ayat 12 - 13 yang menjelaskan tentang kemampuan teknolog kepada Nabi Sulaiman untuk menaklukan angin, sehingga ia mampu menempuh perjalanan yang melebihi kecepatan angin. Kemudian memberikan pengetahuan kepada Nabi Sulaiman untuk mencairkan tembaga serta menaklukan jin untuk mengerjakan bangunan-bangunan gedung pencakar langit, mambuat patung dan jambangan-jambangan besar serta
periuk periuk besar di atas tungku-tungku berukuran besar.
Oleh karena itu, segala bentuk yang dihasilkan oleh IPTEK harus berorientasikan pada hubungan pokok agar tidak merugikan manusia itu sendiri. Hubungan tiga arah itu antara lain:
Pada sisi negatif Ziauddin Sardar dalam Information and The Moslem Word dalam Rahmad, menunjukkan, bahwa penggunaan komputer secara menyeluruh dapat menghancurkan prinsip-prinsip etika Islam; tauhid khilafah, adil, ibadah, dan hikmah. Pada sisi positif komputer memungkinkan penerimaan, pengolahan, dan penyampaian informasi tentang masalah-masalah umat yang lebih cepat, lengkap, dan cermat.
Melihat arus informasi yang begitu cepat dan maju bagaimana pengaruh pendidikan agama “Islam” khususnya di Indonesia, walaupun dalam kenyataannya pendidikan agama dituntut untuk dapat mengadaptasikan dirinya dengan kondisi yang ada. Di samping dapat mengadaptasikan dirinya, pendidikan Islam juga dituntut untuk menguasai IPTEK dan kalau perlu merebutnya, karena secara ekstrim Ziauddin Sardar menyatakan bahwa abad informasi ternyata sama sekali bukan rahmat Di masyarakat Barat sendiri, la telah menimbulkan sejumlah besar problema yang belum ada cara penyelesaiannya.
Sebab era globaiisasi yang ditandai dengan dominannya informasi mungkin bertentangan dengan budaya dan pandangan bangsa Indonesia dan tidak mustahil akan berdampak pada krisis nilai spiritual berupa alienasi, dehumanisasi khususnya pada generasi muda nantinya. Penulis sependapat dengan pernyataan Sardar. Karena dampak negatif itu semua pasti akan terjadi, namun jika peran keluarga khususnya orang tua yang menanamkan pendidikan agama, moral, dan akhlak semenjak dini mungkin masalah ini akan sedikit teratasi.
Al-Qur'an telah memotivasi dan menjelaskan tentang IPTEK, secara nyata memberikan dorongan kepada manusia agar menganalisis dan mengembangkan ilmu dan teknologi. Dengan tujuan untuk mengatur ekosistem yang serba nyaman dan teratur, terdapat dalam surat Saba' ayat 12 - 13 yang menjelaskan tentang kemampuan teknolog kepada Nabi Sulaiman untuk menaklukan angin, sehingga ia mampu menempuh perjalanan yang melebihi kecepatan angin. Kemudian memberikan pengetahuan kepada Nabi Sulaiman untuk mencairkan tembaga serta menaklukan jin untuk mengerjakan bangunan-bangunan gedung pencakar langit, mambuat patung dan jambangan-jambangan besar serta
periuk periuk besar di atas tungku-tungku berukuran besar.
Oleh karena itu, segala bentuk yang dihasilkan oleh IPTEK harus berorientasikan pada hubungan pokok agar tidak merugikan manusia itu sendiri. Hubungan tiga arah itu antara lain:
- Berorientasikan ke arah Tuhan pencipta alam semesta.
- Berorientasikan ke arah hubungan antar sesama manusia.
- Berorientasi ke arah bagaimana pola hubungan manusia dengan alam sekitar dan dirinya sendiri harus dikembangkan.
Pada sisi negatif Ziauddin Sardar dalam Information and The Moslem Word dalam Rahmad, menunjukkan, bahwa penggunaan komputer secara menyeluruh dapat menghancurkan prinsip-prinsip etika Islam; tauhid khilafah, adil, ibadah, dan hikmah. Pada sisi positif komputer memungkinkan penerimaan, pengolahan, dan penyampaian informasi tentang masalah-masalah umat yang lebih cepat, lengkap, dan cermat.
Melihat arus informasi yang begitu cepat dan maju bagaimana pengaruh pendidikan agama “Islam” khususnya di Indonesia, walaupun dalam kenyataannya pendidikan agama dituntut untuk dapat mengadaptasikan dirinya dengan kondisi yang ada. Di samping dapat mengadaptasikan dirinya, pendidikan Islam juga dituntut untuk menguasai IPTEK dan kalau perlu merebutnya, karena secara ekstrim Ziauddin Sardar menyatakan bahwa abad informasi ternyata sama sekali bukan rahmat Di masyarakat Barat sendiri, la telah menimbulkan sejumlah besar problema yang belum ada cara penyelesaiannya.
Sebab era globaiisasi yang ditandai dengan dominannya informasi mungkin bertentangan dengan budaya dan pandangan bangsa Indonesia dan tidak mustahil akan berdampak pada krisis nilai spiritual berupa alienasi, dehumanisasi khususnya pada generasi muda nantinya. Penulis sependapat dengan pernyataan Sardar. Karena dampak negatif itu semua pasti akan terjadi, namun jika peran keluarga khususnya orang tua yang menanamkan pendidikan agama, moral, dan akhlak semenjak dini mungkin masalah ini akan sedikit teratasi.


0 komentar:
Posting Komentar