Kamis, 01 April 2010

IPTEK dan Agama


Tidak dapat dipungkiri bahwa kemajuan dan teknologi canggih yang ‎melahirkan berbagai produk elektronik (media massa) telah memberikan ‎pengaruh besar pada kehidupan manusia (sosial, politik, ekonomi, budaya, dan ‎pendidikan), baik yang bersifat positif maupun negatif itu semua bergantung pada ‎manusia selaku pelaksana konsumen.‎
Al-Qur'an telah memotivasi dan menjelaskan tentang IPTEK, secara nyata ‎memberikan dorongan kepada manusia agar menganalisis dan mengembangkan ‎ilmu dan teknologi. Dengan tujuan untuk mengatur ekosistem yang serba nyaman ‎dan teratur, terdapat dalam surat Saba' ayat 12 - 13 yang menjelaskan tentang ‎kemampuan teknolog kepada Nabi Sulaiman untuk menaklukan angin, sehingga ‎ia mampu menempuh perjalanan yang melebihi kecepatan angin. Kemudian ‎memberikan pengetahuan kepada Nabi Sulaiman untuk mencairkan tembaga serta ‎menaklukan jin untuk mengerjakan bangunan-bangunan gedung pencakar langit, ‎mambuat patung dan jambangan-jambangan besar serta


periuk periuk besar di ‎atas tungku-tungku berukuran besar.‎

Oleh karena itu, segala bentuk yang dihasilkan oleh IPTEK harus ‎berorientasikan pada hubungan pokok agar tidak merugikan manusia itu sendiri. ‎Hubungan tiga arah itu antara lain: ‎
  1. Berorientasikan ke arah Tuhan pencipta alam semesta.‎
  2. ‎Berorientasikan ke arah hubungan antar sesama manusia.‎
  3. ‎Berorientasi ke arah bagaimana pola hubungan manusia dengan alam sekitar ‎dan dirinya sendiri harus dikembangkan.‎
Salah satu bentuk ketegangan dan kemelut yang terjadi akibat penetrasi ‎media massa menurut Jalaluddin Rahmat, adalah hancurnya nilai-nilai tradisional ‎dan masuknya nilai-nilai modern yang destruktif, media informasi mutakhir ‎syarat dengan pesan-pesan yang mendorong pada seksualitas, perlakuan agresif, ‎konsumerisme, dan sekularisme.‎
Pada sisi negatif Ziauddin Sardar dalam Information and The Moslem ‎Word dalam Rahmad, menunjukkan, bahwa penggunaan komputer secara ‎menyeluruh dapat menghancurkan prinsip-prinsip etika Islam; tauhid khilafah, ‎adil, ibadah, dan hikmah. Pada sisi positif komputer memungkinkan penerimaan, ‎pengolahan, dan penyampaian informasi tentang masalah-masalah umat yang ‎lebih cepat, lengkap, dan cermat.‎
Melihat arus informasi yang begitu cepat dan maju bagaimana pengaruh ‎pendidikan agama “Islam” khususnya di Indonesia, walaupun dalam ‎kenyataannya pendidikan agama dituntut untuk dapat mengadaptasikan dirinya ‎dengan kondisi yang ada. Di samping dapat mengadaptasikan dirinya, pendidikan ‎Islam juga dituntut untuk menguasai IPTEK dan kalau perlu merebutnya, karena ‎secara ekstrim Ziauddin Sardar menyatakan bahwa abad informasi ternyata sama ‎sekali bukan rahmat Di masyarakat Barat sendiri, la telah menimbulkan sejumlah ‎besar problema yang belum ada cara penyelesaiannya.‎
Sebab era globaiisasi yang ditandai dengan dominannya informasi ‎mungkin bertentangan dengan budaya dan pandangan bangsa Indonesia dan tidak ‎mustahil akan berdampak pada krisis nilai spiritual berupa alienasi, dehumanisasi ‎khususnya pada generasi muda nantinya. Penulis sependapat dengan pernyataan ‎Sardar. Karena dampak negatif itu semua pasti akan terjadi, namun jika peran ‎keluarga khususnya orang tua yang menanamkan pendidikan agama, moral, dan ‎akhlak semenjak dini mungkin masalah ini akan sedikit teratasi.‎


0 komentar:

Template by : kendhin x-template.blogspot.com